Pages

Rabu, 28 Januari 2015

Tips Cara Menulis Naskah Stand Up Comedy


Sebelum melakukan Stand Up Comedy, ada baiknya kita membuat garis besar materi yang akan kita sampaikan. Ada beberapa style yang sering digunakan comic Stand Up Comedy, salah satunya adalah menggunakan hastag (#) sebagai puchline pembuka.
Berikutnya adalah memilih kata. Tahap ini dinamai diksi. Diksi menjadikan lelucon menjadi lebih tajam dan dapat ditangkap semua kalangan umur maupun strata sosial. Diksi bisa jadi sangat nyeleneh dan kontroversial. Ini dimaksudkan agar penonton lebih memperhatikan dan bertanya-tanya dengan lelucon apa yang akan kita sampaikan. Sebagai contoh comic bisa menggunakan kata bunting daripada kata hamil.
Mempelajari aksen dari berbagai suku bisa sangat membantu dalam menyusunan materi lawakan sehingga cerita dapat mengalir lebih lancar. Sebagai contoh, kata mengapa dengan aksen Batak akan terasa berbeda karena adanya kekhasan pada pengucapan huruf ‘e’.
Hal-hal yang dapat dilakukan saat menyusun naskah Stand Up Comedy, yaitu:
1. Persiapkan tema besar yang akan dibicarakan, perbanyaklah informasi tentang lawakan yang akan kita bawakan
2. Siapkan perkenalan yang sangat khas sebagai yang dapat menarik perhatian penonton
3. Siapkan puchline sebagai pembuka alur lawakan, punchline bisa berupa perkenalan yang digabungkan dengan lawakan pertama.
4. Membuat dan menghubungkan beberapa tema kecil
5. Membuat penutup yang fantastis, sehingga lawakan kita berkesan pada penonton
6. Perhatikan larangan pada Stand Up Comedy di Indonesia
7. Perhatikan jenis penonton, apakah cocok dan bisa menerima jenis lawakan kita atau tidak
Susunlah naskah Stand Up Comedy sesuai dengan gayamu agar lebih mudah dibaca sehingga kita dapat merasakan lelucon yang akan kita bawakan. Jangan takut lawakan kita garing. Kita bisa berlatih di depan teman-teman kita dulu.
George Carlin berkata, “Aku beruntung dapat mengkreasi IDEA menjadi SCRIPT (writing) kemudian DiPERFORMkan.”
Urutannya:
1. Ide (dalam pikiran) melayang-layang
1. Script (skenario), materi tertulis
1. Perform. – Menjadi sebuah aksi AUDIO-VISUAL-ACTING
Titik puncaknya adalah AUDIO-VISUAL-ACTING
Sajian hiburan fisik; hiburan-seni yang menggunakan diakfragma, nafas, otak, ekpresi tangan, kaki, alis mulus, hidung, dll.
semua bagian tubuh hampir berfungsi untuk menghidupkan poin no 2. Script (skenario), materi tertulis.
Script itu Flat, natural, dan tak ada konteks
Jadi Comedianlah yang menghidupkan isi script itu menjadi bentuk monolog yang ber 5D
1 -> Kita melihat sesosok Individu – Comedian; manusia bukan animasi.
1 -> Ide yang keluar dari pikiran comedian
1 -> Ide yang bisa dirasakan dan dilihat lewat bayangan pikiran kita
1 -> Cerita yang bisa membuat pendengar hanyut dalam emosi-tawa, bahkan emosi marah/ emosi superiority.
1 -> Kita merasakan dalam wahana tawa yang begitu dahsyat.
Namun, jika kita melihat scipts mereka, kita hanya melihat kertas yang berisi coretan-coretan yang tak ada arti dan konteks. Tidak berisi
empati dan emosi, lucunya pun tak dapat kita tangkap.
Namun, jika dijalankan oleh sang maestro comedy, materi itu HIDUP, terasa bernafas, merepresentasikan 5D, dan tentu merangsang audience untuk tertawa.
Kesimpulan; Materi yang kita tulis di atas kertas hanya 5% dari hiburan, 95% adalah berada di otak comedian. Comedian harus menjewatahkan menjadi sebuah ide/gambar/suara/ yang dapat membuat kita tertawa.

Minggu, 25 Januari 2015

Stand Up Comedy
Stand up comedy adalah salah satu genre profesi melawak yang pelawaknya atau comic membawakan lawakannya di atas panggung seorang diri, biasanya di depan pemirsa langsung, dengan cara bermonolog mengenai sesuatu topik. Orang yang melakukan kegiatan ini disebut pelawak tunggal , komik, atau komik berdiri (komik tunggal). Lawakan mereka biasanya direkam dan kemudian dijual menjadi melalui DVD, internet, atau televisi.
Komedi tunggal biasanya dilakukan oleh satu orang (ada juga yang berbentuk grup), membawakan materi yang original atau dibuat sendiri (ada juga yang membawakan lawakan umum), dan biasanya dilakukan di cafe-cafe. Orang yang melakukannya dinamakan Stand Up Comedian, Stand Up Comic, atau hanya disebut Comic. Biasanya para Comic membawakan materi mereka dengan gaya monolog, walaupun ada beberapa jurus yang mengharuskan mereka berinteraksi dengan penonton.
Genre ini biasanya dibandingkan dengan lawakan berkelompok (grup lawak), seperti grup srimulat dan Warkop DKI dari Indonesia,
Lawakan yang dibawakan oleh para pelawak tunggal biasanya mereka buat sendiri. Materi Stand Up Comedy harus berformat set up & punch atau boleh menggunakan format lain seperti rule of three.

Set up

Set up adalah bagian yang tidak lucu dari sebuah lawakan (bit) yang berfungsi untuk memancing penonton agar mereka penasaran. Saat mendengarkan set up suatu bit, penonton memikirkan kisah pertama, yaitu bayangan atau pikiran penonton mengenai set up suatu bit.
Contoh set up:
  • "Saya ini suka sekali beli sepatu ... "

Punch

Punch adalah bagian yang lucu dari sebuah bitPunch berfungsi untuk menyodorkan kejutan kepada penonton. Saat mendengarkan punch suatu bit, penonton memikirkan kisah kedua, yaitu bayangan atau pikiran penonton menganai punch suatu bit.
Contoh punch:
  • ... karena di mana-mana beli sepatu itu beli 1 gratis 1, beli yang kiri dapat juga yang kanan."
Contoh lengkap suatu bit:
"Saya ini suka sekali beli sepatu karena di mana-mana beli sepatu itu beli 1 gratis 1, beli yang kiri dapat juga yang kanan.

Rule of three

Rule of three yaitu format suatu bit yang memberi tiga contoh sesuatu, tetapi contoh yang ketiga adalah punch.
Contoh rule of three:
  • "Setiap kali bertemu perempuan saya selalu ingin memandangi, memeluk, ..."
Punch-nya:
  • ... lalu menamparnya."

Prinsip pelawak tunggal

Jangan mencoba menjadi lucu

Maksudnya yaitu biarlah penonton menertawakan materi yang dibawakan, bukan menertawakan pelawaknya. Jadi pelawak tunggal tidak boleh melucu-lucukan dirinya seperti memakai pakaian yang aneh, berlagak latah, gagap, dan sebagainya.

Jangan menceritakan lawakan basi

Maksudnya yaitu pelwak tunggal tidak boleh membawakan materi lawakan yang sudah umum atau sudah pernah didengar orang banyak. Jadi pelawak tunggal harus membawakan pelawak tunggal kodian.

Jangan bercerita bertele-tele

Maksudnya yaitu pelawak tunggal tidak boleh membawakan lawakan yang terlalu panjang seperti cerita. Jadi pelawak tunggal harus membawakan lawakan yang singkat saja.

Seriuslah

Maksudnya yaitu pelawak tunggal yang tampil harus terlihat serius, tidak melakukan ekspresi atau mimik kaku dan canggung yang tidak menarik penonton.

Santai

Seorang pelawak tunggal harus santai, karena dengan begitu ia akan membawakan materinya dengan lebih mudah.
Grup stand up
Lawakan yang dilakukan oleh sekelompok pelawak tunggal yang saling berinteraksi. Metode ini sangat berbeda dengan grup lawak pada umumnya. Dalam pelawak tunggal berkelompok, setiap anggota kelompok harus membawakan lengkap satu bit atau boleh lebih. Lalu anggota yang lainnya juga membawakan bit berikutnya yang berkesinambungan dengan bit yang dibawakan oleh anggota sebelumnya. Pembagian bit ini juga harus berkeseimbangan.
Ini berbeda dengan grup lawak yang harus ada anggota yang memancing anggota lainnya agar bisa menimbulkan tawa. Dalam pelawak tunggal berkelompok, setiap anggota harus bisa menimbulkan tawa tanpa harus dipancing oleh anggota lainnya. Kesulitan dalam pelawak tunggal berkelompok tergolong tinggi untuk dapat berbeda dengan grup lawak pada umumnya, sehingga jarang ditemui pelawak tunggal berkelompok di Indonesia. Model seperti ini mulai diterapkan dalam Indonesia Lawak Klub.
Stand up comedian terkenal